Skip to content

Omzet Gawat Darurat: Penanganan untuk Mengejar Target di Tengah Bulan

Banyak owner yang kaget dengan kondisi bisnisnya saat rekap akhir bulan keluar. Dan wajar kalau rasanya deg-degan: angka sudah jadi, waktu sudah habis, pilihan tinggal menyesal atau panik. Kalau Anda merasa juga seperti itu, ada baiknya Anda cek artikel sebelumnya “Dag Dig Dug Target”.

Makanya, artikel ini dibuat seperti Protokol Darurat: bukan untuk bikin laporan panjang, tapi untuk menghentikan “pendarahan omzet” saat pertengahan bulan mulai off-track dengan langkah yang logis, praktis, dan cepat dieksekusi.

Prinsipnya sederhana: diagnosa dulu, baru intervensi. Jangan kebalik.

Cara Diagnosa: 3 Pertanyaan yang Memetakan Masalah

Sebelum loncat ke promo/ads, jawab tiga pertanyaan ini dulu. Usahakan pakai data sederhana: omzet harian, jumlah transaksi, dan jumlah pengunjung harian.

1) Masalahnya ada di Traffic atau tidak?

Traffic = jumlah orang yang “masuk” ke toko/akun/WA/marketplace Anda (lihat, klik, chat, datang).

Tanda awal:

  • kunjungan turun
  • chat/DM turun
  • inquiry turun
  • toko terasa sepi

Contoh kalau di Shopee bisa dilihat di bagian ini:

Traffic atau Jumlah Pengunjung di Shopee Seller Center dapat dilihat di Halaman Performa Toko pada bagian Total Pengunjung

Traffic merupakan nafas dari penjualan. Traffic yang rendah dapat membuat sales terasa seperti sesak nafas. Kalau nilai Traffic-mu rendah, berarti Anda butuh untuk tingkatkan pengunjung ke toko. Segera cek pada bagian penanganan “Sesak” Traffic di bagian bawah artikel ini.

2) Kalau traffic tidak turun, apakah Conversion yang bocor?

Conversion = dari yang lihat/klik/bertanya, berapa yang jadi beli.

Tanda awal:

  • chat banyak tapi closing sedikit
  • banyak yang tanya hal yang sama lalu menghilang
  • “ramai” tapi transaksi nggak nambah

Conversion ini kalau di Shopee ada di sebelah sini:

Traffic atau Jumlah Pengunjung di Shopee Seller Center dapat dilihat di Halaman Performa Toko pada bagian Tingkat Konversi Pesanan

Sebagai contoh nilai 1% berarti dari 100 orang yang berkunjung ada 1 orang yang melakukan transaksi. Kalau pada gambar, nilai 0,81% berarti ada 1.664 pesanan yang dihasilkan dari 206.471 klik produk (umum pada e-commerce untuk membandingkan transaksi dengan jumlah klik daripada pengunjung).

Apabila nilainya rendah, maka tandanya Conversion-lah yang menjadi masalah.

Untuk mengatasi masalah Conversion, kita perlu gali lebih lanjut kira-kira masalahnya ada di persediaan atau di pemasaran, caranya:

  • Jika banyak variasi produkmu yang Out of Stock, berarti masalahnya terletak di Persediaan
  • Namun jika stok produkmu aman, bisa jadi Intervensi Pemasaran yang perlu dilakukan

3) Kalau transaksi ada dan conversion bagus, apakah Basket Size yang kecil?

Basket Size = nilai per transaksi (AOV: Average Order Value). Ini sering jadi penyakit “omzet kurang” padahal order terasa jalan.

Tanda awal:

  • order ada, tapi omzet tetap jauh dari target
  • banyak transaksi kecil
  • produk yang kebeli “cuma itu-itu saja” tanpa add-on

Cara menghitung Basket Size cukup sederhana: [Total Omzet] / [Jumlah Transaksi]. Misalnya dalam seminggu omzet yang didapat Rp 100.000.000 dari 100 transaksi, maka Basket Size / AOV nya Adalah Rp 1.000.000. Contoh AOV pada Shopee ada di bagian berikut:

Traffic atau Jumlah Pengunjung di Shopee Seller Center dapat dilihat di Halaman Performa Toko pada bagian Penjualan per Pesanan

Sebagai contoh, perhitungan pada gambar di atas ialah 297.520.850 [Total Penjualan] dibagi 1.664 [Pesanan] sehingga didapatkan angka 178.799 nilai transaksi per pesanan.

Basket Size yang kecil umpama seperti Anemia. Ada transaksi, namun nominal yang dibawa setiap transaksinya terlalu kecil. Untuk itu diperlukan booster yang bisa Anda lihat pada Penanganan untuk Anemia Basket Size.

Penanganan Darurat sesuai Indikasi Masalah

Nah sekarang jika kita sudah punya bayangan penyakit atau masalahnya di mana, saatnya kita melakukan tindakan yang sesuai:

1) “Sesak” Traffic: Kalau yang Masuk Sedikit, Fokusnya Apa?

Segera lakukan cek cepat:

  • Apakah iklan mati / budget turun / materi iklan sudah jenuh?
  • Apakah jadwal posting, live, atau broadcast berhenti?
  • Apakah ada perubahan jam buka/jam respons?
  • Apakah ada momen kalender (tanggal tua, libur, hujan, event lokal) yang mungkin berpengaruh?

Penanganan Darurat:

  1. Aktifkan mesin traffic tercepat yang sudah terbukti
    Jangan buka channel baru di saat darurat. Pilih 1–2 channel yang secara pengalaman paling cepat berpengaruh (mis. ads IG, TikTok live, WA broadcast, marketplace ads).
  2. Naikkan intensitas selama 3–5 hari
    Berikan ‘booster vitamin’ singkat: buat campaign mini dengan deadline pendek. Tujuannya bukan branding, namun mengisi saluran penjualan.
  3. Gunakan aset yang sudah menang (pernah berhasil)
    Kondisi darurat bukanlah waktu yang baik untuk eksperimen kreatif. Lakukan repost highlight produk best seller, testimoni yang paling berkesan, atau konten yang dulu sudah pernah perform.

Waspadai juga adanya Efek Samping: kalau traffic turun karena jam respons/operasional yang kacau, menambah traffic malah bisa bikin tim kolaps. Pastikan basic operasional Anda aman dulu.

2) Conversion Bocor karena Out of Stock: Banyak yang Mau Beli, Tapi Barangnya Nggak Ada

Ini pembunuh omzet yang sering diremehkan di balik kata “ya namanya juga habis”. Padahal efeknya berlapis-lapis:

  • pembeli batal sekarang,
  • pembeli bisa pindah ke kompetitor,
  • dan yang paling bahaya: pembeli jadi males tanya lagi.

Gejala

  • banyak chat “stok ada?”; “warna/size ada?”; “kapan restock?”
  • produk yang paling laku sering kosong
  • sering lost order karena “nunggu restock”

Cek cepat

  • Produk mana yang paling sering ditanya tapi nggak ready?
  • Apakah Anda punya 1–3 “hero product” yang seharusnya nggak boleh kosong?
  • Lead time restock/produksi berapa hari? Stock saat ini aman atau tidak?

Penanganan Darurat:

  1. Tetapkan “Non-Negotiable Stock”: top 3 SKU yang wajib ready
    Anda TIDAK harus sedia stok banyak untuk SEMUA varian. Tapi perlu stok aman untuk yang paling laku.
  2. Sederhanakan variasi sementara
    Saat off-track, kurangi varian yang memperumit stok. Fokus di varian yang paling cepat laku.
  3. Buat substitusi yang jelas
    Kalau stok habis, jangan cuma bilang “habis”. Siapkan jawaban: “yang mirip ini ready” atau “pre-order estimasi xxx hari” + siapkan bonus kecil untuk customer yang mau pre-order.
  4. Pasang “status stok” yang jujur dan mudah dibaca customer
    Tuliskan di highlight, katalog, pinned post, atau deskripsi marketplace. Ini mengurangi chat yang berujung batal.

3) Conversion Bocor karena Marketing: Foto, Nama, Harga, Deskripsi, dan Kejelasan

Banyak owner mengira “kalau sepi, berarti butuh iklan.”
Padahal seringnya iklan sudah bawa orang, namun yang bikin gagal adalah etalase yang membingungkan.

Gejala

  • ramai yang tanya, tapi minim closing
  • pertanyaan berulang (harga berapa? bedanya apa? dapat apa? gimana pakainya?)
  • klik produk rendah atau waktu customer belanja di toko kita singkat
  • banyak yang bilang “nanti dulu” atau ghosting setelah dijawab

Cek cepat 4 titik vital:

  1. Foto utama: dalam 2 detik orang paham ini apa?
  2. Penamaan produk: jelas manfaatnya atau malah kreatif tapi bikin bingung?
  3. Harga: terlihat jelas + cukup menarik?
  4. Alasan percaya: testimoni, garansi, bukti kualitas, before-after, dsb.

Penanganan Darurat: rapikan etalase

  1. Ganti foto pertama dengan yang paling informatif, bukan yang paling estetik
    Estetik boleh, tapi customer butuh kejelasan apa yang ia beli.
  2. Ubah nama produk jadi “manfaat + pembeda”
    Contoh pola: “Kaos Dry-Fit Anti Gerah — Regular Fit” (lebih jelas daripada nama seri yang abstrak).
  3. Tampilkan “paket yang didapat” secara eksplisit
    Hindari customer yang batal karena takut beli kucing dalam karung.
  4. Buat FAQ singkat
    5 pertanyaan yang paling sering muncul. FAQ ini bisa saja menaikkan closing tanpa perlu nambah traffic.
  5. Perbaiki pricing presentation, bukan selalu turunkan harga
    Kadang masalahnya bukan harganya, tapi value-nya tidak kebaca. Atau malah produknya sendiri belum memunculkan unique selling point yang dimiliki.

4) Basket Size: Order Ada, tapi Nilainya Nggak Ngangkat

Kalau transaksi sudah jalan tapi target tetap jauh, ini bisa jadi sumber penyakitnya.

Gejala

  • jumlah order lumayan, tapi omzet masih off-track
  • banyak order yang cuma berisi 1 item: SKU paling murah
  • produk add-on jarang ikut kebeli

Cek cepat

  • AOV sekarang berapa?
  • AOV yang dibutuhkan supaya target tercapai itu berapa?
  • Produk apa yang paling sering dibeli bareng?

Penanganan Darurat

  1. Bundle yang masuk akal
    Bukan bundling “asal gabung”. Bundle harus bikin hidup pelanggan lebih mudah atau lebih hemat secara jelas.
  2. Threshold promo (minimal belanja)
    Contoh: bonus/ongkir/produk kecil jika belanja minimal RpX. Ini cara yang cukup efektif buat naikin nilai transaksi.
  3. Add-on / upsell yang “no-brainer”
    Satu item pendamping dengan harga kecil yang relevan. Letakkan di momen checkout/chat.

Intinya, pertengahan bulan itu bukan waktunya panik—tapi waktunya cek cepat dan bertindak tepat. Mulai dari 3 pertanyaan diagnosa: Traffic, Conversion, & Basket Size. Begitu ketemu “penyakitnya”, pilih intervensi yang sesuai dan beri intensive care selama 3–5 hari.

Kalau masih bingung, segera kontak PENSA untuk bantu Anda melakukan diagnosa, mengambil langkah cepat, serta menyiapkan monitoring berkala agar Anda tidak perlu menerka-nerka lagi.