Pernah nggak sih, kamu sudah merasa kirim CV terbaik, tapi balesannya cuma “Thank you for your interest, but…” atau malah kena ghosting total? Rasanya lebih nyesek daripada ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, kan?
Di Pensa, kami melihat ribuan aplikasi setiap bulannya. Tahap pertama—alias initial screening—adalah gerbang tersulit karena di sinilah 80% pelamar biasanya gugur. Kabar baiknya, gagal di tahap ini bukan berarti kamu nggak kompeten, bisa jadi cuma karena ada “kerikil” kecil yang lupa kamu singkirkan.
Mari kita bedah alasan kenapa lamaranmu sering tersangkut di depan pintu!
1. CV yang Terlalu “Penuh Dekorasi” tapi Minim Isi
Gen Z memang kreatif, tapi desain CV yang terlalu full color, pakai grafik batang untuk skill, atau foto profil yang lebih mirip foto aesthetic Instagram justru bikin pusing.
- Problem: Banyak perusahaan sekarang pakai ATS (Applicant Tracking System). Kalau CV-mu terlalu banyak ornamen atau formatnya aneh, mesin ini nggak bisa baca keahlianmu.
- Solution: Pakai format yang bersih dan ATS-friendly. Fokuslah pada kata kunci (keywords) yang relevan dengan posisi yang kamu lamar.
2. “Shotgun Approach” (Sikat Semua Tanpa Filter)
Kamu tipe orang yang satu CV dipakai buat lamar jadi Admin, Graphic Designer, sampai Social Media Specialist? Hati-hati, rekruter bisa mencium “ketidakseriusan” ini dari jauh.
- Problem: CV yang terlalu umum tanpa kustomisasi bikin kamu terlihat nggak punya spesialisasi.
- Solution: Quality over quantity. Lebih baik melamar ke 3 tempat dengan CV yang sudah “dimasak” khusus sesuai kebutuhan mereka, daripada melamar ke 30 tempat tapi isinya cuma copy-paste.
3. Missing Link di Jejak Digital
Sebelum manggil kamu wawancara, kemungkinan besar rekruter bakal “stalking” kamu secara profesional.
- Problem: Tautan portofolio yang nggak bisa dibuka (minta permission access), LinkedIn yang mati suri sejak 2022, atau malah isi sosmed yang terlalu kontroversial bisa jadi alasan kamu langsung di-skip.
- Solution: Pastikan semua link di CV-mu aktif. Kalau taruh link Google Drive, pastikan setingannya sudah Anyone with the link can view.
4. Gagal Menjawab Pertanyaan “Admin” yang Krusial
Kadang ada formulir tambahan yang menanyakan hal simpel seperti: “Berapa ekspektasi gaji?” atau “Kapan bisa mulai kerja?”
- Problem: Jawaban yang terlalu tinggi (jauh di atas standar pasar) atau jawaban yang nggak jelas (misal: “Terserah perusahaan saja”) menunjukkan kamu nggak melakukan riset pasar.
- Solution: Riset standar gaji untuk posisi dan pengalamanmu. Be confident but stay realistic!
5. Typo: Si Kecil yang Berakibat Fatal
Mungkin menurutmu typo itu manusiawi, tapi bagi rekruter, typo di nama perusahaan atau di deskripsi diri menunjukkan kurangnya attention to detail.
- Problem: Salah tulis nama perusahaan (gara-gara copy-paste) adalah cara tercepat untuk masuk ke folder “Rejected”.
- Solution: Pakai aplikasi cek ejaan atau minta teman baca ulang CV-mu. Double check is a must!
6. Kualifikasi yang “Lari” dari Requirement
Ambisi itu bagus, tapi kalau lowongan minta pengalaman 5 tahun dan kamu baru lulus kemarin sore (tanpa portofolio yang luar biasa), wajar kalau kamu nggak lolos.
- Problem: Memaksakan diri melamar posisi yang kualifikasinya sangat jauh dari profilmu.
- Solution: Cari posisi yang setidaknya kamu memenuhi 70-80% syaratnya. Untuk sisa 20%-nya, kamu bisa tunjukkan kemauan belajar yang tinggi di Cover Letter.
Gagal di Tahap Satu Bukan Akhir Dunia!
Jangan berkecil hati kalau belum lolos. Anggap tahap pertama ini sebagai ajang “uji coba” pasar. Kalau kamu terus-terusan gagal di titik yang sama, artinya ada sesuatu di “kemasan” lamaranmu yang perlu diperbaiki.
Di Pensa, kami nggak cuma bantu kamu cari kerja, tapi kami ingin kamu tumbuh menjadi kandidat yang siap tempur di industri mana pun.
Pensa – Navigating Your Career Journey with Clarity.
