Skip to content

Cara Menaklukkan Interview Kerja: Guide “Anti-Awkward” Buat Gen Z!

Pernah merasa sudah siap 100%, tapi begitu duduk di depan recruiter, mendadak blank? Atau merasa minder karena merasa belum punya pengalaman mentereng di perusahaan besar?

Tenang, kamu nggak sendirian. Sebagai Gen Z, kita sering menghadapi tantangan unik dalam proses rekrutmen. Mari kita bedah alur “perjalanan” interview ini, dari hambatan yang sering muncul hingga cara mengatasinya dengan gaya yang natural.

1. Membongkar Mitos “Kurang Pengalaman”

Hambatan pertama sering kali muncul bahkan sebelum interview dimulai: rasa tidak percaya diri pada CV sendiri. Banyak dari kita merasa “anak bawang” karena belum pernah bekerja di korporasi.

  • Masalahnya: Kita cenderung mengecilkan arti pengalaman organisasi, projek freelance, atau bahkan keberhasilan mengelola konten di media sosial.
  • Solusinya: Ubah perspektifmu. Alih-alih bilang “Saya belum pernah kerja formal,” katakanlah, “Saya memiliki pengalaman mengelola projek mandiri yang mengasah kemampuan manajemen waktu dan adaptasi teknologi.” Perusahaan sekarang mencari potensi, bukan sekadar deretan nama kantor lama.

2. Menjinakkan Rasa Gugup Saat Berhadapan

Begitu interview dimulai, jantung mulai berdegup kencang. Akibatnya? Bicara jadi terlalu cepat atau malah terlihat kaku seperti robot.

  • Masalahnya: Kita terlalu fokus ingin memberikan jawaban yang “benar” menurut internet, sehingga lupa menjadi manusia.
  • Solusinya: Gunakan teknik Conversational Storytelling. Bayangkan kamu sedang bercerita pada kakak kelas yang kamu segani. Gunakan metode STAR (Situation, Task, Action, Result) agar ceritamu punya struktur, tapi tetap sampaikan dengan nada yang ramah. Jika kamu melakukan kesalahan, jangan panik—perbaiki dengan tenang. Itu menunjukkan kamu punya kontrol emosi yang baik.

3. Menjual “Gen Z Edge” Tanpa Terlihat Arrogant

Seringkali kita bingung bagaimana menonjolkan kelebihan kita (seperti kefasihan teknologi atau kreativitas) tanpa terlihat merasa paling tahu segalanya.

  • Masalahnya: Takut dicap “kutu loncat” atau terlalu menuntut.
  • Solusinya: Tunjukkan Growth Mindset. Saat memamerkan skill digitalmu, kaitkan dengan bagaimana hal itu bisa membantu efisiensi perusahaan. Katakan, “Saya sangat terbiasa dengan tools AI, dan saya percaya ini bisa mempercepat proses riset di tim Anda.” Ini menunjukkan kamu bukan cuma jago, tapi juga peduli pada kontribusi tim.

4. Mengakhiri dengan “Kesan yang Melekat”

Banyak kandidat yang “layu” di akhir interview. Begitu ditanya “Ada pertanyaan?”, mereka cuma jawab “Sudah cukup, Pak/Bu.”

  • Masalahnya: Kehilangan kesempatan terakhir untuk menunjukkan ketertarikan mendalam.
  • Solusinya: Jadikan ini momen Inquiry. Ajukan pertanyaan yang menunjukkan kamu sudah memikirkan masa depanmu di sana. Misalnya, “Bagaimana kultur feedback di tim ini membantu anggota tim untuk terus berkembang?” Pertanyaan ini secara halus menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang haus akan pengembangan diri.

Jadilah Diri Sendiri Versi Profesional Interview bukan tentang menjadi orang lain, tapi tentang menunjukkan bagaimana nilai-nilai unikmu sebagai Gen Z bisa menjadi aset bagi perusahaan. Persiapan adalah kunci, tapi ketulusan (authenticity) adalah pemenangnya.