Jujur deh, kapan terakhir kali kamu dapet notifikasi “A recruiter viewed your profile” dan berlanjut ke DM yang isinya tawaran interview? Kalau LinkedIn kamu lebih sepi daripada grup WhatsApp keluarga di tanggal tua, berarti ada yang perlu di-permak.
Di Pensa, kami melihat ribuan profil setiap harinya. Kami tahu mana profil yang “sekadar ada” dan mana profil yang punya daya pikat magnetis. Tahun 2026 ini, LinkedIn bukan lagi sekadar CV online, tapi landing page pribadi kamu.
Yuk, kita bedah rahasia dapur biar profilmu dilirik rekruter dalam hitungan detik!
1. Foto Profil: Dari “Pasfoto Kaku” ke “Professional Vibe”
Kalau foto LinkedIn kamu masih jas hitam + background merah/biru + ekspresi tegang,
please… stop. Dunia kerja sekarang nyari yang profesional tapi relatable.
- Yang Perlu Kamu Perhatikan: Gunakan foto yang approachable. Pakai pencahayaan alami, outfit sesuai industri (smart casual always works), dan pastikan wajah kamu ngisi sekitar 60% frame.
- Pro Tip: Jangan lupa pasang Banner/Headline yang estetik tapi relevan. Banner LinkedIn jangan kosong. Itu area paling pertama dilihat rekruter. Sayang banget kalau cuma gambar langit.
2. Headline: Stop Menulis “Job Seeker” atau “Fresh Graduate”
Menulis “Open for Work” atau “Fresh Graduate” di headline itu ibarat jualan tapi cuma bilang “Saya jualan”. Rekruter mencari solusi, bukan cuma orang yang butuh kerja.
- Ubah Jadi: Role | Skill Utama | Dampak yang Kamu Bikin
- Contoh: “Digital Marketer | Expert in Meta Ads & TikTok Trends | Helping Brands Grow 20% MoM.”
Biar saat rekruter mengetik kata kunci di kolom pencarian, nama kamu muncul di barisan atas!
3. About Section: Jangan Kayak Laporan PKL
Bagian About adalah tempatmu “jualan” tanpa terlihat haus validasi. Jangan tulis dalam bentuk poin-poin kaku.
- Yang Perlu Kamu Lakuin: Gunakan gaya bercerita (storytelling). Ceritakan masalah apa yang suka kamu pecahkan dan apa motivasimu di industri ini.
- Formula: What I do → Why I care → Achievement → CTA ringan
Contoh CTA simpel dan profesional:
“Currently open for collaboration / new opportunities.”
4. Experience: Tugas Itu Biasa, Impact Itu Menjual
Banyak orang cuma copy-paste job desc dari kontrak kerja. Membosankan! Rekruter ingin tahu: “Terus, hasilnya apa?”
- Gunakan Rumus XYZ: “Berhasil mencapai [X] yang diukur oleh [Y], dengan melakukan [Z].”
- Contoh: ❌ Mengelola media sosial
✅ Naikin engagement 40% dalam 3 bulan lewat strategi konten short-form
5. Skill & Endorsement: Sedikit Tapi Ngena
Punya 50 skill di profil tapi nggak ada hubungannya satu sama lain itu bukan keliatan jago, tapi keliatan nggak fokus..
- Yang Perlu Kamu Lakuin: Pilih 3 skill utama yang paling kamu kuasai dan relevan dengan karier yang kamu incar. Mintalah rekan kerja atau teman kuliah untuk memberikan endorsement. Di mata rekruter, satu endorsement dari rekan kerja lebih berharga daripada sepuluh skill tanpa validasi.
6. Aktiflah, Tapi Jangan “Spam”
LinkedIn itu media sosial. Kalau kamu cuma diam, algoritma bakal melupakanmu.
- Yang perlu dilakukan: Coba berikan komentar yang berbobot di postingan tokoh industri yang kamu kagumi. Bagikan insight receh tapi bermanfaat tentang pekerjaanmu sehari-hari. Ini menunjukkan kamu punya passion dan pengetahuan di bidangmu.
Kenapa Pensa Peduli Sama Profilmu?
Di Pensa Consulting, kami percaya bahwa di balik profil digital yang keren, ada talenta hebat yang menunggu ditemukan. Kami sering menemukan kandidat impian hanya dari cara mereka menyusun kata-kata di LinkedIn mereka.
Profil yang teroptimasi dengan baik adalah tiket emasmu menuju peluang yang lebih besar tanpa harus capek-capek “sebar lamaran” secara buta.
